Skip to main content

Posts

Time flies, but I have no idea to make us freeze. That's why I'm worry somehow. 'bout the thing that I am not sure I really know. Mataram, 27 Oktober 2016

Di antara Padang, Hujan, dan Laporan ini :Kamu

Padang hujan badai kemarin. Katanya memang di sini sedang musim. Aku sampai di Bumi Malin Kundang Senin siang ketika cuaca cerah sampai malam. Memang, tepat sebelum burung besiku terbang, ibuku sempat bertanya via telpon soal kondisi cuaca. Kata berita, semalam seluruh penerbangan ke Padang delay atau malah dibatalkan karena angin. Namun, penerbanganku berjalan menyenangkan tanpa halangan yang berarti. Hanya pegel karena kebetulan sandaran tempat dudukku tidak bisa dimundurkan. Aku baru tahu kalau ternyata Garuda masih punya kursi tua. Haha Tapi angin kemarin siang ternyata mengerikan. Cuaca di sini terang, pun tetiba angin bertiup kencang, lalu hujan. Kulihat dari jendela hotel orang-orang berlarian merapikan meja-kursi restauran yang bergelimpangan. Tetiba aku ingat sign jalur evakuasi sunami yang dipasang di sepanjang jalan. Tetiba aku ingat hotel tempatku menginap hanya beberapa puluh meter saja dari bibir pantai. Tetiba aku ingat jam itu hampir berbarengan dengan waktu landi...

Takdir itu Saru

Salah satu yang terseru dari hidup adalah karena takdir itu saru. Karena apa-apa kapan berubah kita tak selalu tahu. Seperti kita tak pernah tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk seseorang masuk dalam hidup kita; lantas tak bisa lepas. Seperti kita tak pernah selalu paham alasan dari setiap rasa, jika memang alasan harus selalu ada. Seperti caranya membelokkanku menuju radarmu; temu Lantas segala kapan dan alasan jadi ikut saru. Ikut ambigu. Tetiba segala aku jadi ada kamu. Cirebon, 9 September 2016 Pertamaku soal kamu

Selamat Lebaran!

Sebelas lebaran berlalu tanpamu, Pa. Bukan waktu yang singkat, memang. Kali ini beberapa yang sempat hilang, kujumput ulang. Beberapa yang pergi, sudah datang kembali. Bahkan kutemukan beberapa yang sebelumnya tak aku mengerti. Beberapa. Tak banyak, memang. Tapi aku berusaha. Kau lihat kan aku melakukan segala yang aku bisa? Belum cukup keras, memang. Sebelas lebaran dan aku masih heran kenapa padaku kau tak pernah datang. Sementara kudengar kau hadiri mimpi orang-orang. Apa karena tentang kita tak cukup banyak yang bisa dikenang? Padahal mereka bilang aku mirip kau. Padahal seumur hidup aku berusaha mirip kau. Pa, dengar. Aku baik-baik saja. Beberapa hal memang jadi menyebalkan setelah kau tak ada. Kau bukan cuma figuran ternyata. Maaf untuk baru sadar setelah kau tinggal. Kau memberiku lebih dari cukup bekal untuk belajar: belajar tumbuh, belajar tangguh. Jadi, aku baik-baik saja. Keras kepala seperti jagoan. Pa, di sana lebaran? Enggak? Hitungan kita sepertinya sudah berbed...

Andai Kala Itu

Andai kala itu kau bisa lebih sabar menungguku bersiap keluar, bisa lebih lama duduk dulu di beranda. Mungkin saat ini kita sedang berbincang bernaung bintang. Sambil menghitung lalulalang mobil merah atau hitam di jalanan remang. Yang lantas kita jadikan alasan tertawa jika mata kita salah membaca warna. Yang hampir selalu salah. Yang tetap kita tertawakan saat tak salah. Andai kala itu aku bisa sedikit lebih gegas menyambutmu, bisa lebih tegas membuka pintu. Mungkin saat ini kita sedang kelelahan sepulang pergi. Memilih channel televisi sambil menikmati aroma teh dan kopi. Yang selalu kita jadikan alasan untuk mendebat selera. Yang hampir semua beda. Yang tetap kita perdebatkan ketika sama. Namun kita justru memilih jalan yang sulit. Memutuskan sesekali saja bertemu di simpangan rumit. Saat kau bukan lagi pria yang duduk di berandaku, dan aku bukan lagi wanita yang bersiap menyambutmu. Jakarta, 27 Juni 2016 Dien Ihsani
Aku ternyata tidak siap melepas pergi sesuatu yang bahkan belum dimulai~ Aku ternyata tidak siap kehilangan sesuatu yang bahkan belum ada~