Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Tugas Akhir

Another Start

Ini mungkin postingan terakhir untuk label Tugas Akhir. 29 Oktober 2014, aku akhirnya sampai pada titik ini. Ketika aku harus bangun pagi dan berusaha dandan sendiri untuk menghadiri sebuah acara penting. Acara yang menggiringku ke gerbang dunia nyata :wisuda. Hari itu membuatku mules. Kalau sebelumnya aku bisa sembunyi di balik statusku sebagai mahasiswa, sekarang aku harus segera mencari status baru untuk bisa dituliskan di biodata. Fuaaah!! Bismillah. Bagaimana pun, aku herus menghadapinya. Dan aku memilih menghadapinya dengan sebuah senyuman :) Masuk (foto: Ibuk) Sekeluarga (foto: mas-mas fotografer) Terima kasih untuk membawaku sampai pada titik ini, Tuhan. Terima kasih atas kesempatan ini. Semoga aku bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik dan benar. Euforia wisuda itu cuma sebentar, tapi aku sangat menikmatinya. Orang diwisuda itu enggak boleh enggak bahagia. Kehidupan macam apa pun yang nanti akan aku hadapi, hari itu aku sangat bahagia. Bagaimana tidak? Ha...

Hari Ketika Cinta Bertebaran

Senin pagi yang cerah, 11 Agustus 2014. Sepertinya udara sedang dingin pagi itu, atau hanya suasana yang membuatnya terasa dingin? Entah. Setelah mendekam seharian di kosan sepanjang Minggu untuk mempersiapkan misi suci yang sebelum-sebelumnya kepending sama hobi baruku membuat prakarya, akhirnya hari eksekusi datang juga. Di Senin pagi yang indah itu aku pada akhirnya harus melamar pacar yang sudah kukencani selama hampir 11 bulan: SKRIPSI. Ternyata memang tidak ada gunanya berdo'a Hari Senin di- skip saja. Kalender toh kadung mencantumkan tanggal 11 Agustus sejak akhir tahun lalu. Padahal dalam hati masih membatin, nggak mungkin yang mendadak tanggalnya hilang kayak rumah di "Charlie and the Chocolate Factory"? Begitu alarm hape berbunyi, dan kudapati itu adalah Senin dini hari, aku hanya bisa berdoa orang tua wali pacarku, dosen pengujiku, sedang dalam suasana hati yang baik hari itu. Aku hanya bisa berdoa semoga pinanganku diterima. 

Semoga Digemateni

Sekarang aku tahu kenapa ibuku selalu mendoakan, "Semoga di sana digemateni, Nduk ," tiap kali aku pamitan mau menetap di suatu tempat baru. (Digemateni: disayangi, dirawat. jawa) Karena memang menyenangkan ketika banyak orang yang memerhatikan kita. Banyak yang menanyakan, "Sudah makan belum?" di siang hari saat kita melakukan sesuatu maupun sedang enggak ngapa-ngapain itu rasanya kece. Di sini aku kayak punya banyak om dan tante baru. Hahaha. Meski kadang dimanipulasi untuk mengantar surat-surat keluar, aku suka kok. Aku jadi bisa jalan-jalan keliling kantor. Ngeceng, siapa tahu ada vitamin A gratis di jalan *dzeg! Daripada bengong nggak tahu mau ngapain pas orang-orang kelimpungan sama tugasnya masing-masing kan ya. Namanya juga anak lapangan. Paling nggak bisa kalau disuruh nggak ngapa-ngapain. Duduk diam itu menyebalkan. Mending tidur kan kalau sama-sama harus diam. Haha. Aku jadi punya rencana untuk mendoakan hal yang sama ke anakku kelak. Kayak ibuku...

Berdamai dengan Sikap Tak Menyenangkan

Apa aku udah bilang kalau aku udah mulai PKL? Jum'at ini hari ketiga aku menjalankan misi suci itu. Setelah semua perjuangan yang menguras air mata *halah* itu, rasanya amazing bisa duduk di ruangan ber-AC yang ada papan "Kasubag Program" menggantung di depan pintu. Yang aku rasakan pertama adalah lega. Yang kedua bingung. Yang ketiga senang. Lalu ketiganya menjadi sebuah rasa syukur yang dalam. Setelah semua yang aku lalui, gila kali ya kalau aku enggak mensyukuri ini? Terlebih di sana menyenangkan. Aku mendapatkan keluarga yang ramah dan baik. Jadi enggak begitu kerasa sendiriannya. Haha. Tim program ada sembilan orang. Aku yang kesepuluh. Boleh nggak sih aku sebut diriku penggenap? *Dzeg! Hahaha* Kali ini bukan PKL-nya yang akan aku ceritakan. Di sana menyenangkan. Itu saja. Lebih dari itu, tadi ada sebuah pelajaran yang mendadak aku sadari. Subbag Program itu konon adalah tim yang sibuk. Emang sibuk. Hari ini saja berkali-kali aku dengar salah satu, sal...

Air Mata Terakhir

Kemarin, beberapa menit habis aku posting tentang Air Mata Pertama,  ada sms masuk dari salah satu mantan mbak kosku yang kebetulan dulu pernah sekamar sama aku. Agak terharu juga sih dapet tanggepannya bukan komentar di postingannya atau ke fb dimana aku share, tapi langsung sms. Haha. Isinya kurang-lebih gini: "Cieee yang habis nangis gara-gara dosen. Kamu ternyata bisa nangis to? Hebat banget ya. Mantan kamu aja ga berhasil bikin kamu nangis lho." Hahahaha. Kandani og. Kurang istimewa bagaimana coba si Mister Kind ini. Aku pernah dibikin nangis orang itu bisa dihitung pake jari lho. Jarang banget. Bukan lantaran jarang orang yang mau bikin nangis aku lho ya tentunya. Banyak lah yang tanpa dibayar pun bakal dengan senang hati bikin aku nangis. Aku nyadar diri kok betapa menyebalkannya aku ini. Sayangnya jarang banget yang berhasil. Huahaha *merasa hebat* Entah apa akunya yang enggak punya perasaan atau gimana ya. Belakangan bahkan acara motivasi aja udah nggak memp...

Air Mata Pertama

Ternyata makhluk satu ini nggak cuma menguras tenaga dan pikiran doang, tapi juga sukses menguras air mata. Nahlho! Apa-apaan ini belum-belum udah melomelo. Ini bukan soal pacar baruku yang aku dedikasikan satu folder di leptopku khusus untuknya itu. Belum. Ini soal..mm..mungkin semacam selingkuhan ya. PKL. Praktek Kerja Lapangan, anak tiri yang entah kenapa tiba-tiba show on minta banget diperhatiin. Bayangpun satu minggu aku habiskan cuma buat ngejar-ngejar tanda tangan satu orang yang mahapenting di dunia per-PKL-an. Sebut saja Mister Kind. Nama adalah sebuah doa, kan? Setelah beberapa hari lalu dia sukses masuk dalam mimpi indahku, pagi tadi dia membuatku menangis kayak bocah kehilangan mainan. Sumpah demi apa. Aku jarang banget lho nangis. Lalu Mister Kind ini dengan cool -nya menjadi satu dari sedikit oknum yang pernah bikin aku nangis. Jengjeeeeeeenggg….!!! Format proposalku salah. Format surat izinku salah. Atau aku yang salah? Entah. Bisa bayangin, udah ba...

Belum-Belum Sudah Nostalgia

Ternyata benar apa yang dulu mbak kosku pernah bilang, jadi mahasiswa semester tua itu nggak enak. Sama sekali enggak enak. Feel mahasiswanya udah nggak sama lagi. Kampus jadi tempat yang enggak asik lagi. Sepi, meski secara denotasi justru sebaliknya. Apalagi pas masa-masa mahasiswa baru (maba) masih banyak-banyaknya tugas gini. Mereka udah kayak jamur aja menggerombol dimana-mana. Dari tempat yang lazim kayak taman atau perpustakaan, sampai koridor mereka penuhin. Udah kayak yang punya kampus aja. Ngebetein. Iya, maba itu ngebetein. Aku nggak suka sama maba karena mereka kayak ngingetin aku kalau aku semakin tua. Aku nggak suka sama maba karena mereka suka ngumpul dimana-mana. Ha! That's the point . Aku nggak suka maba karena mereka suka ngumpul dimana-mana, sementara teman ngumpulku udah pada kemana-mana. Aku kangen teman-temanku. Serius. Deeply . Jadi mahasiswa semester tua itu nggak enak. Sama sekali enggak enak. Bukan cuma gara-gara skripsi yang dari tahun kapan...

Pacar Baru

Ini minggu-minggu awal aku bikin skripsi. Di tempatku sih namanya tugas akhir. Apapun lah. Bagiku terdengar sama-sama menakutkan. Tadinya aku mau ambil ini makhluk nanti aja pas semester 8, tapi entah bagaimana kronologinya, aku toh akhirnya mencantumkan namanya di KRS-ku semester 7. Beberapa temanku bilang aku *labil* , lainnya bilang hebat, aku sendiri merasa sedikit gila. Ah, apalah arti aksi gila di hidupku yang kadung random ini. Aku pikir, dengan memasukkan namanya dalam salah satu daftar di KRS-ku saja, semua sudah akan berakhir. Aku salah besar. Jalanmu masih panjang, Nak. Kegilaan satu itu justru awal kegilaan-kegilaan selanjutnya. Ternyata makhluk berinisial TA ini juga butuh pendaftaran ulang. Jadi aku harus daftar dulu ke salah satu dosenku yang menjadi koordinator TA. Halah. Rempongnya kau ini, Nak. Aku tahu itu aja secara nggak sengaja dari seorang teman yang bertanya, “Kamu udah daftar TA?” Waktu itu aku jawab aja, “Belum. Emang terakhir kapan sih?” Pada...