Lama banget nggak mengunjungi tempat ini. Lamat-lamat yang kadung menghiasi sudut-sudut itu, kalau diberesi entah apa masih bisa bersih sama sekali. Momen-momen weekday -ku belakangan dipenuhi dengan mandi pagi, berangkat subuh, keburu-buru mengejar jadwal kereta atau omprengan, sampai kantor kepagian, ngautis di dalamnya seharian, pulang sore cenderung malam, ngegrab taksi, menghadapi kepadatan KRL lagi, terkantuk-kantuk di angkot, sampai rumah kemalaman, mengumpulkan sisa mood untuk mandi, berusaha mencapai target tidur jam 9 yang lebih sering enggak kesampaian, kemudian terbangun oleh alarm pukul 4 keesokan harinya untuk mandi pagi, berangkat subuh, dan seterusnya. Sementara weekend selalu aku jadwalkan untuk bangun siang, mengunjungi sudut ibu kota yang ingin dijamah, atau sekedar leyeh-leyeh seharian. Semacam momentum pelampiasan setelah diforsir seminggu penuh mikir laporan. Oh iya, aku lagi ojt, semacam magang semi klasikal kelompokan gitu. Seru. Tiap minggu ganti kantor untu...
Tulis, lalu pikirkan. Pikirkan, lalu suarakan. Ada proses menulis yang disimpan dan menulis yang disuarakan. Menulis adalah menuangkan hal yang kadang tidak mudah disuarakan.