Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sohib kece

Malam ini Aku Pulang Sendiri

Lama banget nggak mengunjungi tempat ini. Lamat-lamat yang kadung menghiasi sudut-sudut itu, kalau diberesi entah apa masih bisa bersih sama sekali. Momen-momen weekday -ku belakangan dipenuhi dengan mandi pagi, berangkat subuh, keburu-buru mengejar jadwal kereta atau omprengan, sampai kantor kepagian, ngautis di dalamnya seharian, pulang sore cenderung malam, ngegrab taksi, menghadapi kepadatan KRL lagi, terkantuk-kantuk di angkot, sampai rumah kemalaman, mengumpulkan sisa mood untuk mandi, berusaha mencapai target tidur jam 9 yang lebih sering enggak kesampaian, kemudian terbangun oleh alarm pukul 4 keesokan harinya untuk mandi pagi, berangkat subuh, dan seterusnya. Sementara weekend selalu aku jadwalkan untuk bangun siang, mengunjungi sudut ibu kota yang ingin dijamah, atau sekedar leyeh-leyeh seharian. Semacam momentum pelampiasan setelah diforsir seminggu penuh mikir laporan. Oh iya, aku lagi ojt, semacam magang semi klasikal kelompokan gitu. Seru. Tiap minggu ganti kantor untu...

Best Response of The Day

Dulu, tanggapan papa buat semua yang aku raih adalah tanggapan paling nyebalkan. Apa pun yang aku pamerin pasti cuma ditanggapi dengan, "Papa tahu." Hampir selalu tanpa ucapan selamat. Ah, kok selamat. Kadang pake senyum aja enggak. Lempeeng gitu ngomongnya. Kayak yang njeglek gitu ga sih kalau kita udah ngomong pamer menggebu-gebu terus ditanggepinnya gitu doang? -_- Aku sering ngerasa gagal pamer ke papa. Aku sering ngerasa ga tau gimana caranya bikin papa kagum. Mungkin dasarnya papaku nggak gumunan kali ya. Haha. Tapi kan nyebelin gitu kan kalau setiap yang udah kita usahakan jadi seolah biasa aja. Tapi sekarang, aku kangen lho ditanggapi begitu. Aku kangen denger kalimat, "Papa tahu," yang diucapkan tanpa ekspresi kagum itu. Seolah kayak papa sebenernya cuma pengen bilang kalau beliau tahu aku pasti bisa. Kalau segala pencapaian itu enggak perlu dikageti karena beliau percaya sejak awal bahwa aku memang layak. Terlebih setelah aku tahu bahwa di belakangku...

Jakarta, Lontong Sayur, dan Satpol PP ;Travelling Pertama

Travelling , rasanya banyak orang yang akan mengamini kalau aku bilang hobi yang satu ini menyenangkan. Hampir bisa dibilang travelling adalah hobi sejuta umat. Siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Pun aku. Travelling masuk dalam salah satu daftar panjang hobiku.  Hobi yang sering dianggap butuh banyak modal ini belum lama aku geluti. Travelling pertama yang membuatku kecanduan untuk melakukan travelling-travelling berikutnya terjadi pada tahun 2011 lalu. Undangan untuk menghadiri acara sebuah komunitas membuatku harus pergi ke Jakarta. Meski jarak Jakarta-Semarang memang cukup untukku disebut sebagai musafir, namun kota itu bagiku sebenarnya terbilang masih terjangkau. Aku pernah beberapa mengunjungi saudaraku yang tinggal di sana sebelumnya.   Lalu apanya yang istimewa?   Bagiku, pembeda antara travelling dengan hanya bepergian itu terletak pada prosesnya. Pergi ke rumah saudara itu hanya sebuah acara bepergian. Sampai rumah, lalu sudah. Ketika dari...

Semarang Tanpa Kalian, Apa Akan Tetap Sama?

Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, sekaligus (kata Wikipedia ) kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Meski aku enggak tahu kenapa kok masih sering enggak masuk dalam daftar "kota-kota besar di Indonesia" versi audisi-audisi pencarian bakat dan atau road show acara-acara televisi yang disiarkan live . Kalah sama Jogja dan Makassar yang enggak masuk daftar kota metropolitan versi wikipedia itu #mbuletmbulet Padahal kata KBBI, kota metropolitan adalah kota besar yang menguasai daerah sekelilingnya dengan adanya kota satelit dan kota pinggiran. Menurut logika matematika, berlaku implikasi jika metropolitan maka kota besar. Blablabla #kemudiangumoh Ah, lupakan. Dengan atau tanpa kalian, Kota Pelabuhan ini akan tetap menjadi Kota Atlas yang selalu bergerak menuju aman, tertib, lancar, asri, dan sehat. Dengan atau tanpa kalian, Semarang akan tetap punya musim hujan, musim kemarau, dan musim banjir yang kadang...

Begini Kira-Kira Kami Mengartikan Perpisahan, Wahai Para Pria "Minggatan"

Aku sepertinya mulai mengerti kenapa pria suka "minggat". Iya, minggat. Pergi tanpa pamit itu, namanya minggat kan? Jadi aku kenal beberapa teman pria yang entah kenapa, lebih suka pergi diam-diam. Mereka bilang perpisahan itu rempong. Bahkan perpisahan sama orang yang paling dekat sekali pun. Pamitan itu ya cukup sama orang tua aja. Makanya enggak ada angin enggak ada hujan, tiba-tiba mereka juga udah enggak ada aja. Udah hilang entah di mana. Temanku ada yang beberapa waktu lalu menggemparkan dunia persilatan karena dia mendadak pindah, tanpa ada yang benar-benar tahu ke mana. Aku yang diketahui sebagai salah satu orang terdekatnya menjadi sasaran cecaran pertanyaan, yang hanya bisa aku jawab dengan pertanyaan juga. Aku cuma tahu dia mau pergi, tapi dia sama sekali enggak bilang kapan dan tepatnya ke mana. Aku bahkan baru tahu kalau dia sudah benar-benar pergi ketika orang-orang tanya. Lalu aku mulai menyadari kalau dia "minggat" ketika yang tanya sama aku ...

Bunga dan Kumbang: Jalan yang Paling Ringan Rasa Sakitnya

Persahabatan pria dan wanita adalah hubungan yang rentan. Intensitas kebersamaan sering kali membuat rasa memiliki lancang datang. Apa benar-benar ada pria dan wanita yang bersahabat tanpa melibatkan perasaan apa-apa? Mungkin. Iya. Aku sendiri punya beberapa sahabat pria, dan hubungan kami baik-baik saja. Meski memang harus aku akui bahwa kadang ada interaksi yang tampak lebih dari sekedar teman. Kadang memang ada rasa-rasa kelewat batas yang datang di luar kuasa kami--atau mungkin aku-- mencegah. Seperti bantuan, simpati, pengorbanan, perhatian, atau kecemasan-kecemasan yang berlebihan untuk ukuran teman. Kadang-kadang memang ada hal-hal semacam itu. Terlebih wanita katanya adalah makhluk yang paling enggak bisa meninggalkan perasaan. Begitulah. Namun percayalah bahwa perasaan yang ada tak harus perasaan-yang-seperti-itu. Tahu kan maksudku? Aku pikir, kami memang layak saling menyayangi. Bagaimana pun, waktu memang akan menumbuhkan kenangan-kenangan yang membuat kami sulit le...

Tenggat Waktu

Katanya, satu-satunya hal yang abadi adalah ketidak-abadian. Segala sesuatu akan berhenti begitu sampai pada batas waktu yang ditentukan. Soal waktu, apa pernah mengusikmu? Karena persoalan itu kadang mengusikku. Bahkan kadang, tiap kali bertemu dengan sesuatu, yang pertama kutanyakan adalah sampai kapan. Dan lucunya, sering tak kutemukan jawaban hanya untuk pertanyaan sesederhana kapan. Kadang itu membuatku ketakutan. Apa yang lebih menakutkan dari hal-hal yang tak sanggup kita perkirakan? Kamu pernah memikirkannya? Aku pernah. Ah, tapi bukankah hidup ini memang hanya serangkaian adaptasi tanpa henti-henti? Datang, menyesuaikan diri, merasa nyaman, lantas pergi. Bukankah selalu begitu sejak kita hanya seonggok daging yang akan tumbuh menjadi janin? Bukankah sudah berkali-kali kau temukan orang yang membuatmu merasa tak butuh siapa-siapa lagi, lalu waktu membawa kalian pada waktu perpisahan, kau sedih, dia sedih, kalian menjalin komunikasi seolah dengan begitu bisa menjadikan jara...

Ketika Wanita Jatuh Cinta... Kepada Sahabatnya

Apa yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta? Katanya cinta itu indah. Bahkan eek saja bisa berasa coklat buat orang yang lagi jatuh cinta. Emmmmm... untuk yang satu ini aku menolak untuk berkomentar deh. Bagiku eek tetaplah eek dan coklat tetaplah coklat. Namun jatuh cinta pada sahabat? Beberapa orang bilang bahwa jatuh cinta paling indah itu adalah jatuh cinta kepada sahabat. Terlebih jika gayung bersambut. Bagaimana tidak? Apa yang lebih indah dari pada mencintai orang yang kita tahu semua boroknya, paling dekat dengan kita, dan mengenal kita sama baiknya dengan kita mengenal dia. You almost no need to learn any more . Adaptasinya enggak perlu lama. Namun tak sedikit yang bilang bahwa jatuh cinta pada sahabat itu menyakitkan. Gayung bersambut pun tak lantas membuat segalanya menjadi mudah. Terlebih yang bertepuk sebelah tangan. Akan ada banyak ketakutan-ketakutan yang tersimpan dari rasa yang diam-diam ada. Rasa takut kehilangan, takut saling menyakiti, takut hubungannya berak...

Dunia Ini Keras, Nak

Hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini membuatku ingat pada salah seorang teman yang... katakanlah dia membangun benteng pertahanan yang terlalu kokoh untuk melindungi dirinya sendiri. Dia baik, kaya, mana cantik, udah gitu otaknya encer lagi. Kalau pepatah bilang " No body is perfect ", dia pasti adalah si " No-body ". She is almost too perfect to be real . Tapi namanya manusia ya. Katanya sih makin dikasih lengkap, makin ngerasa banyak kurangnya. Mungkin lantaran saking terbiasanya menjadi miss perfect , temanku satu ini jadi luar biasa perfeksionis. Dia nyaris tidak bisa menerima kesalahan sekecil apa pun, bahkan yang dia buat sendiri. Dia lalu menghapuskan demokrasi dalam kamus hidupnya. Kritik itu enggak ada. Iya, dia akan stress berat kalau dikomentarin dikit (apalagi banyak). Dia akan mengingat komentar itu kayak wasiat. Dia akan memikirkan komentar itu dan menganggapnya genderang perang. Dia akan mati-matian mengingkari komentar itu untuk melindungi d...

Another Start

Ini mungkin postingan terakhir untuk label Tugas Akhir. 29 Oktober 2014, aku akhirnya sampai pada titik ini. Ketika aku harus bangun pagi dan berusaha dandan sendiri untuk menghadiri sebuah acara penting. Acara yang menggiringku ke gerbang dunia nyata :wisuda. Hari itu membuatku mules. Kalau sebelumnya aku bisa sembunyi di balik statusku sebagai mahasiswa, sekarang aku harus segera mencari status baru untuk bisa dituliskan di biodata. Fuaaah!! Bismillah. Bagaimana pun, aku herus menghadapinya. Dan aku memilih menghadapinya dengan sebuah senyuman :) Masuk (foto: Ibuk) Sekeluarga (foto: mas-mas fotografer) Terima kasih untuk membawaku sampai pada titik ini, Tuhan. Terima kasih atas kesempatan ini. Semoga aku bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik dan benar. Euforia wisuda itu cuma sebentar, tapi aku sangat menikmatinya. Orang diwisuda itu enggak boleh enggak bahagia. Kehidupan macam apa pun yang nanti akan aku hadapi, hari itu aku sangat bahagia. Bagaimana tidak? Ha...

Muka Jelek's on Vacation #2: Lagi-Lagi, Puncak di Perbatasan Provinsi (3 end)

Resmi berpisah arah. Personil yang tadinya ada enam menjadi tinggal empat. Berempat kami turun gunung dulu, untuk naik lagi. Kali ini kami akan menempuh "jalan normal", menembus kemacetan jalur Borobudur-Jogja khas lebaran. Entah mana yang lebih parah: jalan gunung yang kecil berkelok-kelok atau jalanan kota di tengah kemacetan. Keduanya sama-sama aksesnya susah. Di bawah sini lebih bising dan lebih sumuk tapi. Next mission: Puncak Suroloyo. Suroloyo berada di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Yogyakarta. Tempat ini merupakan puncak tertinggi dari rangkaian pegunungan menoreh. Kata Wikipedia , ketinggian Puncak Suroloyo sekitar 2000 meter di atas permukaan air laut. Ada tiga pendopo di sini, yaitu: Pendopo Suroloyo, Pendopo Sariloyo, dan Pendopo Kaendran. Suroloyo biasanya ramai banget kalau bertepatan dengan malam satu suro. Ada semacam ritual di sini yang aku sendiri belum pernah melihat secara langsung. Setahuku dari cerita-cerita yang beredar, malam satu suro me...