Skip to main content

Posts

Hidup ini Indah Begini Adanya

Mengukil kalimat Dee: meski tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya. Aku ga hafal redaksi persisnya, namun begitulah kira-kira inti yang aku paham. Iya. Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, yang kita tak kuasa bahkan meski sekadar coba membayangkan, jadi aku tak tahu sempurna itu macam apa. Sementara sempurna manusia sebatas gambaran Andra and The Back Bone. Itu saja masih minus setia. Sempurna manusia pasti masih gampang dicari-cari celahnya. Aku lahir dan tumbuh di keluarga yang bahagia. Kusebut bahagia, karena jika aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu, aku rasa aku tak ingin mengubah apa pun. Aku suka keluargaku apa adanya. Meski kadang aku berpikir bagaimana rasanya hidup dalam keluarga yang tidak terlalu rumit. Kadang aku berharap aku hanya seorang anak pertama dari dua anak milik sepasang pria dan wanita. Kadang aku membayangkan rasanya bergantian mengunjungi dua pasang kakek-nenek dari pihak ibu dan pihak ayah. Begitu saja hingga aku bertemu dengan se...

Pada Diskusi Kebenaran Itu, Aku

Berapa lama waktu dibutuhkan untuk seseorang bisa berpengaruh dalam hidupmu? Setahun kah? Atau lebih lama lagi? Aku mengenal seorang pria yang hanya dalam hitungan hari mampu menarik atensiku pada seluruh omongannya. Seluruh pemikirannya. Sebagai gadis keras kepala yang dibesarkan dalam keluarga penjunjung tinggi kemerdekaan berpendapat, aku jelas tak begitu saja setuju pada apa yang dia bicarakan. Tapi, bahkan ketika kami tak sepakat, aku tak bisa tak memberikan seluruh atensiku untuk mendengarnya. Karena... segala sesuatu dalam kepalanya entah kenapa selalu menarik. Dia seperti ayahku. Hampir seperti ayahku. Menghadapinya seolah kutemukan sosok ayah baru. Ketika begitu banyak orang meributkan tentang apa yang benar dan apa yang salah, dia mengajarkanku untuk tidak mendebat. Kita diberi dua telinga dan satu mulut untuk lebih banyak mendengar dari pada bicara, seperti kata pepatah. "Lebih seringlah jadi pengamat," katanya. "Lantas lakuk...

Energienergi

Dan karena bumi hanya energienergi, aku percaya tak ada sia-sia. Bukankah fisika punya teori bahwa energi tak hilang? Pun tak habis? Dia berpindah. Atau berubah. Kalau selain Tuhan ada lagi yang bisa abadi; kusebut energienergi kekal. Pum kita manusia; energienergi. Meski bisa mati, kita abadi. Kita adalah apa yang kita beri. Kita mendapat apa yang kita beri. Kita menjelma apa yang kita beri. Kita tak hilang. Kita tak habis. Kita hanya berpindah. Hanya berubah. Kita abadi, meski setelah mati. Jakarta, 11 Maret 2016 Dien Ihsani

Menua~

Di sini aku belajar membaca orang. Ini sungguh seni yang sulit luar biasa. Berbeda dengan buku yang bisa begitu saja kututup lantas kukembalikan ke rak begitu aku tak suka. Ini sungguh berbeda. Ah, iya. Tentang membaca orang. Bukankah kita semua sudah belajar dari dulu, bahkan sebelum kita sadar? Dengan cara itulah kita suka digendong orang tertentu dan menolak diajak lainnya. Dengan cara itulah kita memilih teman. Dengan cara itulah ada guru kesayangan. Kita selalu membaca. Lantas memberikan penilaian. Dengan cara itulah kita mulai menyukai seseorang. Bahkan dengan cara itu juga kita mendaulat seseorang menjadi musuh bebuyutan. Kalau penilaianmu jelek, yang tinggalkan. Dulu sesederhana itu. Sekarang enggak. Hidup ternyata tak bisa selamanya serebel mahasiswa. Hal-hal busuk tidak selamanya bisa ditolak. Iya. Di sini aku belajar membaca orang, memberikan penilaian, dan menerima apa pun hasilnya. Jika dulu aku hanya tahu di buku lantas kupajang di dinding kamar bahwa bahagia...

Sulit Lupa

Percayalah bahwa wanita itu, meski mudah terluka, adalah makhluk yang tak membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Mudah sekali mengalihkan fokus wanita dari rasa sakitnya. Percayalah bahwa wanita itu, bagaimana pun sakitnya, adalah makhluk yang tak membutuhkan waktu lama untuk memaafkan. Mudah sekali membuatnya tersentuh, lantas jatuh iba. Tapi, Sayang. Hati wanita itu seperti lautan rahasia yang begitu dalam. Sementara meski terlihat suka bercerita, ekspresinya hanya sebatas puncak gunung es yang dasarnya tak bisa kau tebak. Mengertilah bahwa sembuh tak lantas membuat hatinya kembali utuh. Dan memaafkan, tak lantas membuatnya lupa. Mengertilah bahwa dia masih akan bisa tersenyum kepadamu, dia masih akan bisa menyambutmu, dia masih akan bisa mencintaimu, pun dia masih akan selalu ingat rasanya luka yang pernah kau torehkan. Mengertilah bahwa sekali kau mencatatkan nama dalam air matanya, maka dia akan membaca namanu tiap kali menangis. Apa semacam dendam? Bukan. Dia sudah mem...

Monolog Cermin

Andai kau kehilangan dirimu sendiri dalam perjalananmu mencari jati diri, apa lantas kau akan berhenti? Bagaimana lah kalau bertahan hidup kadang justru menyita waktu kita untuk hidup Andai hilang bahagia dari yang selalu berhasil membuatmu tertawa begitu sederhana, apa lantas kau mulai khawatir akhirnya waktu berhasil buat kau tua? Bagaimanalah jika kadang kita dibuat sibuk mencari, sampai lupa pada yang sebenarnya sedang kita cari Lupa aku tanya kita cari apa! Andai kau kehilangan dirimu sendiri dalam perjalananmu mencari jati diri, apa kau akan pilih kembali? Apa kau akan pilih lari? Apa kan kau biarkan yang hilang berganti? Apa masih boleh kudengar kau mendendang teoriteori katahati, jika aku kehilangan kau dalam perjalananmu mencari jati diri. Apa masih akan? Jakarta, 12 September 2015 Dien Ihsani

Balada Sarung Tenun Coklat Kesayangan

Kau percaya firasat? Aku kadang percaya. Terlepas dari ada atau tidak penjelasan ilmiahnya. Selama ngekos di sini aku agak manja. Gegara ada laundry tepat di depan kosan, aku jadi jarang banget nyuci baju sendiri. Meski beberapa kali ada masalah macam baju ketukar, kelunturan, jadinya lebih lama dari seharusnya, dan sebagainya. Entah kenapa aku selalu bisa begitu saja memaklumi. Terlebih ibu dan bapak laundry yang notabene si empunya kosan yang aku tempati itu orangnya baik luar biasa. Sumpah baik banget. Jadi… yasudahlah. Toh memang manusia tempatnya salah. Halah. Apalah. Haha Meski kadang, aku memang jadi memilih untuk mencuci sendiri baju yang aku paling sayangi. Just in case . Hingga entah kenapa, beberapa hari lalu aku mencampur sarung tenun coklat kesayanganku ke dalam sekantong pakaian yang akan   aku laundry . Aku masih ingat kalau aku sempat ragu. Aku sempat takut terjadi sesuatu pada sarungku. Namun, entah apa yang akhirnya membuatku memutuskan untuk ...