Skip to main content

Posts

Sekalimatku Soal Kita

Kata yang diam-diam kuperam, kadang ingin kuutarakan dalam sekalimat picisan. Hingga bisa kau nikmati macam roman-roman yang kau baca. Namun aku takut pemaknaanku akan kita berubah. Entah kenapa aku memaksa menuliskan aksara-aksara di sela hitungan mundurku akan tenggat waktu. Mungkin lantaran keinginan untuk menemukanmu geming di salah satu angkaku masih angkuh tak hendak menguap meski berkali kuyakinkan diriku bahwa itu tak perlu Jika akhir paling telo adalah yang terjadi tanpa perpisahan, akan kah kau biarkan sejarahku mencatatmu sebagai salah satu bagiannya? Sementara ada sekalimat yang belum katam kuterjemahkan dalam bahasa yang kita bisa sama-sama paham. Jika kehilangan paling tegke adalah yang tercerabut tanpa disadari, akan kah kau biarkan kita berhenti sebagai penggalan-penggalan yang tak selesai dirangkai? Sementara ada sekalimat yang sungguh aku ingin kau simpan dalam perjalananmu menuju dunia yang dulu hanya ada dalam kidungmu soal mimpi. Ejaanku hampi...

Charlie Hebdo: Ketika Kebebasan Berpendapat Disalahgunakan

Ah, menyebalkan. Biasanya aku enggak suka menuliskan tema ini. Rawan. Menurutku, agama dan idealisme itu masuk dalam ha-hal yang tidak perlu diperdebatkan. Tapi berita di kompas yang aku baca sore tadi tentang Charlie Hebdo  benar-benar menyebalkan. Masih ingat peristiwa penembakan di kantor majalah mingguan Perancis tersebut tanggal 8 Januari lalu? Seluruh dunia menangis karena itu. Kutukan terhadap teroris terjadi di mana-mana. Bahkan ada beberapa pihak yang lantas memukul rata dengan menghujat Islam. Tidak, aku bukan mau membela aksi penembakan itu meski katanya darah penghina nabi itu halal. Boleh dibunuh. Katanya. Bagaimana pun, aksi penembakan yang menewaskan 12 orang itu jelas keji. Anggaplah benar Rasulullah memperbolehkan penghina nabi untuk dihukum mati, aku enggak yakin ke-12 nyawa itu semuanya terlibat. Penembakan membabi buta seperti itu gegabah. Kata pepatah, tak ada asap jika tak ada api. Pihak Charlie Hebdo mengatakan bahwa medianya tidak berisi kekerasan, ...

Akanmu-Akannya

Getar yang kubiarkan semai dalam tiap ingatanku akanmu-akannya  itu, aku tak tahu apa namanya. Mungkin perwujudan sebuah rindu atau justru kemarahan yang diam-diam kupendam. Tapi aku bisa marah pada siapa? Bahwa ternyata maaf tak mampu menghapus ingatan. Ketika merelakan ternyata tak semudah seperti yang kujanjikan. Kadang aku berlari hanya untuk membuktikan bahwa aku mampu berdiri sejajar, pada akhirnya dengan atau tanpamu, Pa. Kadang aku terjaga hanya demi menyusun rencana memecundangi mereka. Bahwa mereka tumbuh di bawah ketiakmu sementara aku tidak. Bagaimana lah aku tahu bagaimana wujud dari merelakan itu jika aku pada dasarnya hanya seorang pecemburu? Siapa lah mampu ajariku selainmu? Bahkan meski aku tahu sekam dari api antara kami yang tampak mustahil padam, selalu ada rasa-rasa tumbuh di luar kuasa.Aku tergoda untuk marah. Untuk jengah. Untuk meminta kembali segala yang mereka pernah bawa. Segala yang sempat mereka terima sementara aku tidak. Aku ini han...

Bulan Terbelah di Langit Amerika; Jika Islam Tak Pernah Ada

Penulis                      : Hanum Salsabila Rais, Rangga Almahendra Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama ISBN                       : 978-602-03-0545-5 Rilis                          : Mei 2014 Halaman                   : 344 halaman Bahasa                     : Indonesia Buku ini jongkrok di rak bukuku sejak beberapa bulan lalu setelah salah seorang teman, sebut saja Mbak Rini (bukan nama samaran), menghadiahkannya padaku sebagai kado wisuda. Ah, baiknya mbak cantikku satu itu. Dia tahu bena...

Late New Year

Ini masih ada suasana tahun baru kan ya? Tanggal 2, sudah lebih dari 1x24 jam kita mengecap 2015. Kalau tamu, sekarang ini udah kudu lapor ketua RT/RW setempat. Ah, apalah. 2014 lalu adalah tahun jungkir balik? Bagaimana tidak? Aku yang selama ini settle dengan titel mahasiswa, harus rela melepas status itu. 29 Oktober lalu aku resmi turun derajat menjadi.. ah, sudahlah. Haha. 2015 ini istimewa karena di sini aku harus memulai sesuatu yang benar-benar baru. Memang sebelum ini aku sudah berkali-kali lulus, terus nyari sekolah baru. Ketemu teman baru. Punya guru-guru baru. Mencari pengalaman baru. Menggeluti bidang dan kegiatan baru. Melepas sebuah status untuk status lain, kayaknya enggak semenegangkan rasanya pegang KTP dan SIM untuk pertama kalinya di usia tujuh belas dulu. Harusnya begitu. Tapi, pergantian jenjang kali ini nyatanya benar-benar berbeda. Sejujurnya aku agak takut. Fuhh. Kalau dulu pas aku enggak nyaman sama lingkunganku, aku bisa bilang sama diriku sendiri, ...

Tenggat Waktu

Katanya, satu-satunya hal yang abadi adalah ketidak-abadian. Segala sesuatu akan berhenti begitu sampai pada batas waktu yang ditentukan. Soal waktu, apa pernah mengusikmu? Karena persoalan itu kadang mengusikku. Bahkan kadang, tiap kali bertemu dengan sesuatu, yang pertama kutanyakan adalah sampai kapan. Dan lucunya, sering tak kutemukan jawaban hanya untuk pertanyaan sesederhana kapan. Kadang itu membuatku ketakutan. Apa yang lebih menakutkan dari hal-hal yang tak sanggup kita perkirakan? Kamu pernah memikirkannya? Aku pernah. Ah, tapi bukankah hidup ini memang hanya serangkaian adaptasi tanpa henti-henti? Datang, menyesuaikan diri, merasa nyaman, lantas pergi. Bukankah selalu begitu sejak kita hanya seonggok daging yang akan tumbuh menjadi janin? Bukankah sudah berkali-kali kau temukan orang yang membuatmu merasa tak butuh siapa-siapa lagi, lalu waktu membawa kalian pada waktu perpisahan, kau sedih, dia sedih, kalian menjalin komunikasi seolah dengan begitu bisa menjadikan jara...

Masih Ketika Wanita Jatuh Cinta

Entah kenapa, cerita temanku membuatku berpikir bahwa cinta itu sama sekali tidak mudah bagi seorang wanita. Baiklah. Di zaman seperti sekarang ini, mungkin hanya wanita kuno saja yang masih menganggap demikian. Dan aku adalah salah satu wanita kuno seperti itu. Jadi, mungkin istilahnya, temanku itu bertemu dengan orang yang tepat untuk curhat. Meski tidak seutuhnya, aku kira-kira bisa menerka bagaimana perasaannya. Aku setuju dengan pandangannya. Aku, bahkan meski saranku seolah menasihati dia untuk berani mengutarakan perasaannya, diam-diam mengerti kenapa dia memilih bungkam. Cinta seorang wanita itu rempong. Ketika seorang pria disibukkan dengan bagaimana cara mengutarakan perasaannya, wanita sibuk berdoa semoga si pria merasakan hal yang sama tanpa dia perlu berkata. Ketika seorang pria takut ditolak, seorang wanita masih sibuk berdoa semoga si pria menangkap kodenya terus buruan nembak. Jatuh cinta seorang wanita itu hening. Tak banyak wanita yang berani mengakui cintanya send...