Skip to main content

Posts

Primadona yang Ditinggal Penggemarnya

Di warnet lagi. Iya, setelah sekian juta tahun lamanya tak menyentuh tempat ini. Haha. Gara-gara mau ngirim puluhan sertifikat online yang mustahil dikirim pake modem. Tempat ini salah satu saksi bisu bahwa everything has change . Semuanya berubah. Aku ingat dulu pernah ngenet di warnet itu perjamnya bisa sampai 5ribuan. Waktu itu kalau nggak salah aku masih SMP. Entah berapa kali aku mampir warnet dulu sepulang sekolah. Baru ada satu warnet di dekat sekolahku waktu itu. Biasanya aku sama teman-temanku menghabiskan sisa uang jajan di sana buat mainan friendster dan mIRC. Masih pakai nama alay macam cewex_kyut dan sebangsanya. Hahaha. Konyol. Tak butuh waktu lama hingga tempat macam "syurga-dunia-kala-itu" menjamur dimana-mana. Beberapa tahun kemudian bahkan mulai banting harga saking banyaknya saingan. Ada warnet yang sampai pasang harga hingga 2.500 perak saja. Apalagi setelah muncul hape yang menyediakan layanan internet. Sampai SMA aku masih sering ke warnet buat ...

Tumis Pakis Warung tak Bernama

Kalau suatu saat kamu berkesempatan pergi ke "Kota Ngapak" Purwokerto, mampirlah ke sebuah tempat makan yang kalau aku suka mengistilahkannya dengan: "kuliner magic ". Kenapa magic ? Seperti yang hampir semua orang tahu bahwa bisnis di bidang kuliner, selain harus punya amunisi untuk lidah, juga untuk hati. Nggak cuma makanan harus enak, tapi pelayanan juga harus kece.  That's why  pebisnis kuliner berlomba-lomba membuat desain interior aduhai, menciptakan mahakarya dengan menyulap atmosfer tempat makan dengan berbagai inovasi. Jor-joran memberikan great service . Tapi kuliner magic ini beda. Adalah sebuah warung sederhana berdinding papan yang didominasi warna hijau dan putih. Emmm.. aku sendiri sebenarnya agak ragu mengklarifikasikan tempat itu sebagai warung sih. Karena di sana sama sekali enggak ada papan namanya. Jadi aku nggak tahu apa nama warung makan itu. Nama penjualnya pun aku tak tahu. Aku bertaruh tak banyak yang tahu. Penjualnya adalah seor...

Hukum Alam Pikiran

"Saya tidak tahu berbahasa Prancis, Inggris, dan Jerman, sayang! --adat sekali-kali tiada mengizinkan kami anak gadis tahu berbahasa asing banyak-banyak--kami tahu berbahasa Belanda saja, sudah melampaui garis namanya. Dengan seluruh jiwa saya, saya ingin pandai berbahasa yang lain-lain itu, bukan karena ingin akan pandai bercakap-cakap dalam bahasa itu, melainkan supaya dapat membaca buah pikiran penulis-penulis bangsa asing itu." 18 Agustus 1899 Surat R. A. Kartini kepada Nona Zeehandelaar Penggalan surat yang aku dapat dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armijn Pane yang sedang aku baca itu membuatku kepikiran sesuatu. Seperti biasanya, alam pikiran adalah alam dimana bebas itu bukan hanya omong kosong. Tak ada yang berhak melarang kita berpikir tanpa alasan, tak peduli bersih pun kotor. Benar. Kartini menguatkan pendapatku soal alam merdeka ini. Di masa itu, 1899, sekitar 114 tahun yang lalu, dimana wanita masih menjadi kaum-nomor-dua, pasti bukan hal mu...

Semoga Digemateni

Sekarang aku tahu kenapa ibuku selalu mendoakan, "Semoga di sana digemateni, Nduk ," tiap kali aku pamitan mau menetap di suatu tempat baru. (Digemateni: disayangi, dirawat. jawa) Karena memang menyenangkan ketika banyak orang yang memerhatikan kita. Banyak yang menanyakan, "Sudah makan belum?" di siang hari saat kita melakukan sesuatu maupun sedang enggak ngapa-ngapain itu rasanya kece. Di sini aku kayak punya banyak om dan tante baru. Hahaha. Meski kadang dimanipulasi untuk mengantar surat-surat keluar, aku suka kok. Aku jadi bisa jalan-jalan keliling kantor. Ngeceng, siapa tahu ada vitamin A gratis di jalan *dzeg! Daripada bengong nggak tahu mau ngapain pas orang-orang kelimpungan sama tugasnya masing-masing kan ya. Namanya juga anak lapangan. Paling nggak bisa kalau disuruh nggak ngapa-ngapain. Duduk diam itu menyebalkan. Mending tidur kan kalau sama-sama harus diam. Haha. Aku jadi punya rencana untuk mendoakan hal yang sama ke anakku kelak. Kayak ibuku...

Nemu di Catatan #6

Jika rindu adalah waktuwaktu yang tak mampu beradu, bisa apa aku tuk melebur kau dan aku jadi satu? Jarak ini makin lama makin lebar. Hingga rasaku luber lalu hambar. Jurang ini menggali dirinya sendiri dan kubiarkan diriku berdiri di titian yang kau tinggal pergi :menanti. Rindu inikah yang kan membawamu kembali seperti caranya dulu perlahan membawamu pergi? B201, 20 Juni 2013 Dien Ihsani

Meminta atau Memberi

Kata berita di salah satu stasiun televisi swasta yang aku dengar sore tadi, pengemis di Bandung tidak mau diberi pekerjaan sebagai tukang sapu karena gaji yang dijanjikan jauh lebih kecil daripada uang yang mereka dapatkan dari hasil mengemis. Jadi tukang sapu, mereka hanya dijanjikan UMR Rp700.000,- perbulan, sementara hanya dengan menengadahkan tangan di jalanan seharian mereka bisa dapat Rp500.000,- setiap harinya (atau hingga 15juta/bulan). Sekarang, manusia mana sih yang rela meninggalkan penghasilan sebegitu besar demi sebuah pekerjaan yang boleh dibilang tak terlalu menjanjikan? 15juta perbulan itu W-O-W banget lho! Jangankan sama tukang sapu, sama kuli, sama petani, orang gaji ibuku yang PNS aja enggak sampai segitu. Nggak perlu sekolah, nggak perlu modal, cukup bertampang memelas saja, then voila! Nyaris kayak magic . Jelas mereka nolak lah ya dikasih kerjaan sebagai tukang sapu. Gimana sih pemerintah Bandung? Janjikan lah kerjaan sekaliber CEO perusahaan besar kalau mau...

Nemu di Catatan #5

Seperti gelap yang mengetuk pintu kamarkamar perawan Hendakkah kau menjadikan Maryam padahal kau bukan Tuhan? Sementara dalam bilikmu seorang wanita berbaring sendirian. Mungkin angannya berteman hampa. Sisi tempat tidurnya dingin. Prianya lembur hingga esok pagi. Katanya begitu. Nyatanya angin lebih tahu. Dimana entah, 21 Mei 2013